Taruhan Judi Online – Demichelis dan Bek Tua di Liga Inggris

Taruhan Judi Online – Ketika Manuel Pellegrini mengumumkanstarting XI Manchester City pada saat melawan FC Barcelona di Liga Champion, kita bisa melihat ada satu titik lemah di lini belakang. Ia adalah Martin Demichelis. Pellegrini kemudian mengulangi kesalahan yang sama saat melawan Sunderland di final Piala Liga Inggris kemarin. Beruntung kali itu City berhasil menjadi juara.
Tapi dewi fortuna nampaknya enggan untuk datang kembali tadi malam. Kesalahan berbuah penalti yang dilakukan Demichelis mampu dimanfaatkan Wigan baik-baik untuk menyingkirkan City dari kompetisi Piala FA.

Lalu, apa yang membuat bek besar Argentina tersebut menjadi titik lemah? Ini bukan saja karena Demichelis kesulitan bermain sebagai bek tengah, tapi tidak ada kepercayaan dari rekannya di jantung pertahanan, yaitu Vincent Kompany sang kapten.

Selain itu, Pellegrini juga tidak menempatan setidaknya seorang holding midfielder di depan bek-beknya tersebut ketika melawan Barca. Padahal hal tersebut sangat dibutuhkan apalagi saat melawan pemain sekelas Lionel Messi yang merupakan ancaman utama dari El Barca.

Sialnya, Demichelis dan Kompany terpaksa harus berhadapan dengan Messi. Sialnya lagi, Messi yang selalu bergerak ke sayap kanan membuat Demichelis menjadi pemain yang paling bertanggung jawab untuk menghentikannya.

Akhirnya kita semua sama-sama tahu apa yang terjadi kemudian. Demichelis melanggar Messi dan berbuahkan kartu merah, sebuah tendangan penalti, dan membuat Barcelona memimpin dengan nyaman. Setelah itu, permainan menjadi milik Barcelona sepenuhnya.

Namun jangan terpaku pada satu sudut pandang saja. Apa benar hanya Demichelis saja yang bersalah? Mari kita lihat dari perspektif Demichelis.

Mungkin, menurut Demichelis, ia sudah bermain sangat baik sampai titik tersebut. Skill yang dibutuhkan oleh seorang bek tengah berarti ia harus senantiasa melangkah maju untuk memotong bola ke kaki Messi, bertahan melawan Messi secara proaktif dan positif. Distribusinya tentu gugup, tapi ia sudah bertahan dengan baik-baik saja.

Satu-satunya kesalahannya terjadi ketika ia dipaksa harus berputar dan berlari mengejar. Padahal, biasanya ia bergerak naik dan memotong operan. Bahkan pada puncak permainannya sekalipun, Demichelis bukanlah tipikal pemain yang cepat. Tekelnya tersebut mengawali akhir sebuah mimpi Manchester City di Eropa.

Lalu dengan tidak adilnya kita semua mengkambinghitamkan Demichelis.