Judi Taruhan Online – Liverpool kini adalah Eranya.

Judi Taruhan Online – Di Liverpool, tadinya pemain jenis ini saya kira Jordan Henderson. Jangan lupa, Henderson datang ke Anfield di era yang sama dengan Andy Carroll dan Stewart Downing. Untuk sekian lama, trio pemain ini adalah Three Stooges dari Merseyside dengan performa yang berbanding terbalik dengan label harga mereka yang selangit. Mereka adalah posterboy rezim Kenny Dalglish yang awut-awutan itu.

Namun ada alasan mengapa Henderson masih berada di Liverpool ketika Carroll dan Downing sudah berada di Sam Allardyce’s Long Ball Wonderland. Rodgers melihat potensi Henderson untuk menjadi box-to-box midfielder bagi Liverpool dan musim ini bekas pemain Sunderland tersebut berkembang pesat. Henderson menjadi keping yang tak terpisahkan sebagai dinamo lini tengah Liverpool.

Di musim yang sama Liverpool mendatangkan Henderson, Manchester United membeli Ashley Young dalam kisaran harga yang sama. Di musim ketiga mereka di klub masing-masing, yang satu telah membuktikan diri menjadi pemain yang hebat, sedang yang satu lagi menjadi, well, Ashley Young.

Kehebatan Rodgers juga terlihat dari bagaimana ia bisa membuat pemain seperti Raheem Sterling mengeluarkan kemampuan terbaiknya dan bermain konsisten. Lagi-lagi masalah klasik dengan pemain muda Inggris adalah mereka kerap digadang terlalu tinggi saat kemampuan mereka sebenarnya sependek Tyrion Lannister.

Saat Sterling muncul ke permukaan musim lalu, tadinya saya pikir dia hanyalah tipikal pemain muda Inggris yang cepat berlari menyisir sayap tanpa fitur tambahan. One-trick pony. Aaron Lennon 2.0.

Lagi-lagi Rodgers menunjukkan kepiawaiannya dalam meramu taktik ketika usai tahun baru ia menggeser Sterling bermain ke tengah, di belakang striker yang membuat pemain berusia 19 tahun ini praktis menempati peran no 10. Bukti teranyar kesuksesan Sterling di posisi ini bisa terlihat saat partai melawan Man City kemarin itu.

 

Sebagai perbandingan, Tim Sherwood pernah mencoba memainkan Lennon di belakang striker ketika Tottenham Hotspur jumpa Chelsea dan hasilnya Lennon bermain lebih canggung dari ABG yang salah kostum saat prom night.

Problem terbesar Liverpool tentu saja adalah di lini belakang. Jumlah 42 gol yang mereka derita sejauh ini adalah yang terbanyak kedua di antara klub-klub 6 besar sesudah Tottenham. Bahkan ini lebih banyak dari Manchester United yang kebobolan 38 gol. Tapi selama mereka bisa mencetak lebih banyak gol dari lawan, tak akan ada masalah. Seperti Bank Century, Suarez dan Sturridge akan selalu mem-bail out Liverpool dari kesusahan.

Ini adalah saat yang ditunggu-tunggu oleh fans Liverpool setelah lebih dari 2 dekade penuh nelangsa. Dalam kurun waktu itu, sesuatu yang diasosiasikan dengan Liverpool hampir semua berbau komedi.

Dari jas putih di final Piala FA 1996 hingga rambut kuncir Andriy Voronin. Tapi gol bunuh diri terbaik sepanjang masa Djimi Traore hingga gol bola voli pantai ke gawang Pepe Reina. Hal itu akan berubah tahun ini.

Untuk pertama kalinya di era Premier League, kalimat klasik para Liverpudlian “This Could Be Our Year” — Ini bisa jadi tahun kita — bisa diucapkan tanpa ironi. Mereka layak mendapatkannya.

Tapi lepas daripada itu, saya tak tahu bagaimana alam bawah sadar saya akan bereaksi jika melihat Steven Gerrard mengangkat trofi Premier League. Sebagai langkah pencegahan, saya telah membuat janji dengan psikiater seandainya itu membuat saya depresi akut.